• Prita Ghozie. -INFOKBN.com-

Hindari Kebangkrutan, Milenial Harus Bijak dalam Pengelolaan Keuangan

Hindari Kebangkrutan, Milenial Harus Bijak dalam Pengelolaan Keuangan

Sun, 10/13/2019 - 10:15
Posted in:
0 comments

KAUM milenial yang akan jadi penerus generasi bangsa mendapat perhatian banyak pihak. Gaya hidupnya yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya patut dicermati. Itulah yang menjadi perhatian penting dalam dialog interaktif tentang “Pengelolaan Keuangan Milenial” yang diadakan di ballroom KBN Cakung, beberapa waktu lalu.

Perbincangan yang digagas tim milenial KBN ini cukup menarik. Panitia sengaja mendatangkan Prita Ghozie sebagai pembicara. Dengan gayanya yang cukup komunikatif, dosen, CEO & financial planner  ini memaparkan sejumlah fakta, argumen, dan solusi keuangan kaum milenial.

Pembicara lain Diki Irawan dari PT BTN Persero menggenapi talkshow dengan mengupas program “KPR GAESS”.

Menurut Prita Ghozie, para pekerja muda milenial harus lebih bijak dalam mengelola keuangan. Hal ini penting agar mereka bisa mencapai tujuan keuangan yang diimpikannya seperti membeli rumah, menyiapkan dana pernikahan hingga dana pensiunan.

“Ada tiga kesalahan yang dilakukan milenial dalam mengelola keuangan yaitu tidak ada perencanaan keuangan untuk masa depan, tidak ada kontrol atas uang yang dimilikinya dan tidak ada persiapan dana darurat,” kata Prita.

Milenial cenderung menghabiskan uang untuk pengalaman seperti belanja, kulier, dan jalan-jalan. Apalagi didukung adanya gadget yang terus menawarkan iming-iming promo dan diskon. Belum belanja online yang belakangan marak dilakukan milenial, sering membuat keuangan jadi lost control.

“Jika kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan keuangan ini tidak diperbaiki, maka pekerja milenial bisa bangkrut pada usia 50-an tahun saat pensiun. Survei menunjukkan hampir 85 persen masyarakat urban tidak siap untuk pensiun,” lanjut Prita.

Untuk menghindari hal ini, Prita menyarankan milenial untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik. Pengelolaan keuangan ini dimulai dari memahami prioritas keuangan, bijak mengelola pendapatan untuk mewujudkan tujuan keuangan.

“Milenial harus bisa mengelola gaji/pendapatan dengan baik. Idealnya tiap bulan kita harus mengalokasikan 5 persen untuk amal, 10 persen dana darurat, dan 30 persen biaya hidup. Selain itu, usahakan menyisihkan 30 persen untuk bayar utang, 15 investasi dan 10 persen untuk gaya hidup,” jelas Prita.

Selain mengelola pendapatan bulanan, hal yang tak kalah penting dalam pengelolaan adalah investasi. Ini penting untuk persiapan pen-siunan.

“Banyak instrumen yang bisa pakai untuk investasi mulai dari reksa dana, saham, properti hingga membuka usaha,” imbuhnya.

Di hadapan para peserta yang sebagian pegawai milenial, Prita menyebutkan bahwa sebagai manusia kita wajib untuk mengelola hal-hal yang wajib, butuh, dan ingin. Kalau semuanya hanya yang wajib saja, kebutuhan dan keinginan tidak dipenuhi maka kita sebagai manusia secara psikologis menjadi tidak tenang. Kalau kita tidak tenang jadi kita akan mencari-cari hal-hal yang sebetulnya tidak efisien, tidak efektif, dan lain sebagainya.

Di sini milenial harus pandai mengelola keuangan. Pengelolaan itu membutuhkan beberapa metode. Setidaknya ada empat metode bisa diterapkan, tergantung dari kebutuhan. Mulai dari metode komitmen, metode sederhana, metode berimbang, dan metode nilai hidup.

Sementara itu, Didi Irawan dari PT Bank BTN memaparkan program pembiayaan perumahan “KPR Gaess” yang dirancang khusus untuk milenial. Diki mendukung ajakan Prita Ghozie agar milenial bukan hanya memikirkan belanja, kuliner atau jalan-jalan, tapi juga beli rumah. Milenial harus punya resolusi misalnya tahun 2019 atau tahun 2020 nanti harus punya rumah. Sebab, rumah bukan saja sebagai tempat tinggal, tapi juga investasi masa depan yang nilainya terus bertambah.

[MAY/KBN_magazine_020/2019]