• Petrus Tjandra, Dirut PT ICDX-LB.-INFOKBN.com-

ICDX-LB, Lebih dari Sekadar Logistik Berikat

ICDX-LB, Lebih dari Sekadar Logistik Berikat

Tue, 02/04/2020 - 04:55
0 comments

ICDX Logistik Berikat menawarkan layanan plus plus berupa pengadaan bahan baku dan finansial melalui PLB.

ICDX Logistik Berikat (ILB) merupakan salah satu Perusahaan Dalam (PD) Pusat Logistik Berikat (PLB) KBN paling dinamis. Di antara PLB lain, ILB ternyata punya layanan lebih -- menawarkan jasa finansial dan pengadaan bagi para importir yang mengalami kesulitan bahan baku dan keuangan.

Layanan plus yang difasilitasi PINA ini menyasar importir yang membutuhkan bahan baku untuk industri dan infrastruktur, namun terkendala masalah keuangan.

Kalau PD PLB lain biasanya hanya memberikan layanan penyimpanan atau pengantaran, ICDX LB (ILB) sekaligus memberikan layanan pembiayaan dan pengadaan. Ini tentu ‘angin segar’ bagi importir maupun industri yang membutuhkan bahan baku melalui PLB.

Petrus Tjandra“Ini hanya merupakan salah satu konsep agar PLB kita maju. Banyak barang-barang dari luar negeri tidak lagi ditampung di gudang-gudang Singapura, tapi masuk Indonesia dan bisa mengurangi biaya logistik kita,” kata Direktur Utama ICDX-LB, Petrus Tjandra ketika ditemui di kantornya di bilangan Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Petrus mengaku sedih melihat masih tingginya biaya logistik nasional kita. “Jangankan membandingkan indeks performance logistik kita dengan Malaysia atau Singapura, di kawasan ASEAN saja kita kalah sama Vietnam. Malu kita,” tambah Petrus Tjandra.

ILB sendiri merupakan anak perusahaan Bursa Komoditi & Derivatif Indonesia (ICDX) dan Indonesian Clearing House (ICH) dengan kegiatan utama menyediakan gudang komoditas yang diperdagangkan di ICDX. Saat ini berkolaborasi antara lain dengan PT Tantra Karya Sejahtera, ILB menyediakan fasilitas penyimpanan, manajemen agunan, custom clearance dan layanan lainnya di Pangkalpinang untuk mendukung pengiriman komoditas sesuai kontrak fisik dan futures yang diperdagangkan di ICDX.

ICDX LB saat ini memiliki sarana pergudangan logistik berikat di Blok A SBU Kawasan Cakung. ILB merupakan PDPLB yang aktivitas bisnisnya terus meningkat seiring dengan melonjaknya permintaan bahan baku industri dan infrastruktur di dalam negeri.

Pendirian ILB merupakan dukungan tulus terhadap paket kebijakan deregulasi ekonomi Indonesia mengenai Pusat Logistik Berikat (PLB), khususnya untuk mendukung bursa komodisi yang diperdagangkan di ICDX.

Diakui Petrus, ICDX LB ingin menjadi bagian dari motor kemajuan PLB di tanah air. Ia mengajak kalangan importir atau industri yang membutuhkan bahan baku dari luar negeri untuk maju bersama PLB yang kini bisa menyiapkan bermacam-macam bahan baku untuk kebutuhan industri dan infrastruktur.

Bahan baku pendukung apa yang dibutuhkan, ILB akan carikan. Uang untuk mengambil barang kurang, bisa pinjam lebih dulu ke ILB yang menyiapkan fasilitas pinjaman PINA. PINA sudah mendapat rekomendari Bappenas RI. “Asal ada komitmen kita siapkan bahan baku sekaligus pembiayaannya,” tutur Petrus.

ICDX LB memahami kesulitan para importir yang biasanya terkendala masalah modal. Harus dimaklumi, setiap barang yang datang ke PDPLB seperti ICDX LB belum dibayar, karena belum disebut impor. Tapi begitu keluar dari PD PLB harus dibayar berikut bea masuknya.

Petrus belum mendengar ada perusahaan lain seperti ICDX LB yang menawarkan empat layanan sekaligus itu. Ia juga senang kalau perusahaan lain mengikuti jejaknya. Itu akan bagus bagi upaya bangsa ini mengembangkan PLB dan mengurangi ketergantungan dari penyewaan gudang-gudang logistik di Singapura.

Berkembangnya PLB tentu akan membuat Singapura semakin cemas. Terlebih, kabar terakhir yang diperoleh menyebut, gudang-gudang di negeri jiran itu mulai menurun.

Selain pergudangan, untuk menurunkan biaya logistik nasional menurut Petrus nantinya kalau PLB-PLB ini berkembang adalah menekan biaya transportasi. Untuk diketahui, saat ini 60% biaya angkut barang-barang dari luar negeri masih mengandalkan kapal-kapal asing. Begitu pun untuk ekspor, 30% masih menggunakan kapal-kapal asing yang sandar di Pelabuhan Tanjungpriok.

Meroketnya jumlah perusahaan PLB belakangan ini mencapai 150 menurut Petrus Tjandra sangat menggembirakan bagi industri dan importir. Sekarang saja banyak perusahaan tambang di Kalimantan dan Sulawesi yang spare part peralatannya dulu ada di Singapura mulai dipindahkan ke Indonesia.

Para eksportir kopi, coklat, lada dan sejenisnya yang sebelumnya ‘diparkir’ di gudang-gudang Singapura sekarang bisa cukup dikirim dikirim dari Jakarta.

ICDX LB merangkul sejumlah eksportir komoditi mulai dari nikel, batubara, kopi, lada, hasil laut, dan lainnya siap jadi pemasar bagi pembeli dari luar negeri.

Sama seperti impor barang melalui PLB di mana barang bisa dilihat dulu, untuk ekspor komoditi ini juga calon pembeli bisa melihatnya secara langsung. Begitu cocok bisa langsung transaksi. Penjual juga sudah bisa mendapatkan sebagian dari pembayaran itu lewat ICDX.

Eksportir yang bergabung dengan ICDX LB ini menurut Petrus tak harus perusahaan besar dengan kuantitas ekspor yang juga besar. Bahkan untuk ekspor batubara bisa mulai 500 ton.

Disinggung tentang tudingan sebagian pebisnis yang menyebut PLB sebagai salah satu tempat penyelundupan barang, Petrus mengatakan, kalau niat menyelundup, jangankan di PLB, di pabean biasa atau bonded zone pun bisa terjadi. Tetap saja ada celah untuk mempengaruhi mental petugas debangan berbagai cara. Tapi ia yakin instansi berwenang mampu mengeliminir masalah tersebut.

PLB menurut Petrus Tjandra relatif lebih aman dari penyelundupan. “Mau menyelundup dari mana? Orang begitu barang datang dibuka, dihitung jumlahnya, diperlihatkan bentuk dan jenisnya. Semua itu termonitor CCTV yang nge-link dengan Bea Cukai,” kata Petrus.

ICDX LB yang dari awal punya komitmen tinggi untuk mendukung program pembangunan pemerintah khususnya di bidang infrastruktur akan menjaga kebijakan pemerintah tersebut lewat bisnis PLB ini.

Langkah nyata ILB ini diwujudkan dalam bentuk penandatanganan kerjasama (Head of Agreement/HoA) dengan PT Jasa Sarana senilai Rp1,04 triliun dan juga PT Wijaya Karya (Persero) pada pertengahan Oktober 2019 lalu senilai Rp5 triliun melalui fasilitas PINA. ICDX Logistik Berikat (ILB) juga telah mendantangani kerjasama dengan PT Waskita Sriwijaya Tol senilai Rp7,45 triliun.

Petrus TjandraILB telah mendapat dukungan pendanaan dari Guangxi Road and Bridge Engineering Group (GRBG) dengan total nilai Rp17,1 triliun. GRBG merupakan salah satu perusahaan teknik terbesar di China yang bergerak di bidang konstruksi.

Disinggung tentang ‘membanjirnya’ produk besi dan baja importasi dari China untuk infrastruktur Indonesia, termasuk yang masuk melalui ICDX LB, Petrus Tjandra mengatakan hal ini semata-mata karena kebutuhan nasional yang dari tahun ke tahun terus meningkat, sementara kemampuan produksi pabrik yang ada di sini jauh dari kebutuhan.

Dikutip The South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), 2018, jumlah importasi baja di Indonesia mencapai 7,6 juta ton dan di semester I 2019 masih terus mengalami peningkatan. Besi dan baja tercatat sebagai komoditas impor terbesar ke-3, yaitu sebesar 6,45% dari total importasi dengan nilai US$10,25 miliar (Badan Pusat Statistik, 2018).

Masifnya baja China masuk Indonesia membuat industri baja nasional terus tertekan. Terlebih para pelaku usaha konstruksi pada umumnya lebih memilih baja China karena harganya yang lebih rendah ketimbang produksi dalam negeri.

Baja impor dari China sudah terkena bea masuk, namun harganya masih lebih rendah ketimbang produk lokal. Ini karena industri di negeri tirai bambu itu, katanyam sudah didukung teknologi tinggi dan mampu melakukan efisiensi.

“Ini memang pilihan. Pengusaha kan berpikirnya realistis saja. Maunya yang harganya ‘miring’ dan stoknya aman. Nah, kalau kita mengandalkan produksi dalam negeri, sejauh ini masih sulit karena stok produksi kita masih jauh di bawah kebutuhan nasional,” katanya.

logo