• Safrizal. -INFOKBN.com-
  • Safrizal bersama jajaran logistik. -INFOKBN.com-
  • Safrizal. -INFOKBN.com-
  • Safrizal. -INFOKBN.com-

Peran Penting Keluarga dalam Karir Safrizal

Peran Penting Keluarga dalam Karir Safrizal

Mon, 08/06/2018 - 17:16
Posted in:
0 comments

PEKERJA keras, jujur dan religius. Itulah tiga sifat yang lekat dengan keseharian Safrizal yang kini menjadi Kepala Divisi Manajemen Operasional PT KBN Persero. Sebelumnya ia pernah menjadi General Manager (GM) SBU Pelayanan Logistik PT KBN (Persero) dan SBU Cakung.

Bekerja di bawah target yang tak ringan selalu menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Tapi, tidak pernah muncul pesimisme terpancar di wajah seorang Safrizal. Ayah tiga anak yang rajin shalat berjamaah di rumahnya itu selalu optimis menghadapi setiap tantangan.

“Kalau kita bekerja keras dan selalu berdoa kepada-Nya, insya Allah kalau ada campur tangan Tuhan, apa yang jadi keinginan kita akan tercapai,” kata Safrizal ketika ditemui di kantornya, beberapa waktu lampau.

Bicara soal campur tangan Tuhan, Safrizal mengaku dari dulu banyak mendapat pertolongan Tuhan. Mulai dari urusan sekolah sampai berbagai pekerjaannya sekarang. Termasuk ketika Koperasi Karyawan (Kopkar) KBN yang dipimpinnya tahun lalu mendapat penghargaan sebagai salah satu koperasi jasa terbaik di Indonesia.

“Tanpa campur tangan Tuhan, mungkin Kopkar tak mendapat penghargaan bergengsi itu,” katanya.

Maka tak berlebihan ketika beberapa bulan ini mulai diberi amanah menjadi ‘komandan’ di KBN Logistics, selain terbiasa datang jauh lebih awal ketimbang anak buahnya, Saf – begitu sapaan akrabnya – juga memberi contoh kepada bawahannya yang muslim untuk shalat dhuha sebelumbekerja.

Dhuha merupakan cerminan seseorang tidak sombong. Dengan shalat dhuha, menurutnya, kita memohon kepada Tuhan agar apa yang kita inginkan diridhoi dan dikabulkan.

Di lingkungan tempat kerja, Safrizal mengaku lebih suka menerapkan manajemen diskusi. Dengan diskusi ia bisa mengeksplorasi bawahan secara lebih maksimal. Sehingga, dengan cara itu diharapkan setiap karyaan akan selalu memberi inovasi dan pemikiran-pemikiran positif bagi perbaikan usaha.

“Dari dulu saya menghindari sikap yang mengarah ke otoriter dan lebih suka dengan pendekatan yang lebih personal. Saya kira masing-masing sudah tahu tugas dan pekerjaannya masing-masing, dan saya tinggal memonitor apa yang dikerjakan,” kata Safrizal.

Dari manajemen berdiskusi yang ditradisikan di lingkungan barunya itu sampai melahirkan apa yang sering disebut “Pakta Integritas”. Ketika itu untuk pertama kali ‘diproklamirkan’ dalam sebuah acara di KBN, banyak pejabat di levelnya yang terkejut. Beragam komentar pun muncul. Tapi, karena apa yang dilakukannya murni demi kebaikan roda perusahaan, ia jalani kesepakatan itu dengan ikhlas dan sepenuh jiwa.

Pernah Jadi Sopir Angkot

Kerja keras, jujur dan selalu ikhlas memang sudah jadi bagian yang membentuk seorang Safrizal sejak kecil. Ia lahir dan besar di Kuala Simpang, Aceh Timur, 53 tahun silam. Ayah anak keempat dari 6 bersaudara ini adalah seorang PNS di Dinas Kesehatan, Aceh Timur.

Nama aslinya sebenarnya Safrizal Hasibuan. Namun, karena ketika itu menyandang marga di daerah konflik, Aceh mengundang kecemasan, akhirnya orang tua tak mau mencantumkan marga pada anak-anaknya.

Masa-masa kecil dilewati di Aceh Timur. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan keras, termasuk kepada Safrizal. Sehabis maghrib setiap anak wajib ikut mengaji. Waktu SD, karena sekolah masuk siang, pagi harus ikut sekolah madrasah.

Pendalamannya pada agama tak diragukan lagi. Bahkan, waktu SMP, ia pernah mewakili sekolahnya maju dalam beberapa kegiatan MTQ sampai kemudian meraih juara III tingkat provinsi.

Di tingkat SMA, Saf sebenarnya mendapat bea siswa untuk masuk IKIP Negeri Medan. Namun, karena kurang berminat ia coba-coba mendaftar di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU).

Di luar dugaan, Saf berhasil lulus. Meski demikian, kelulusannya ini memberikan beban tambahanan pada keluarga. Terlebih, ketiga kakaknya juga masih kuliah. Beruntung, kakak sulungnya tak lama kemudian lulus dan bekerja, sehingga bisa membantu uang kuliah.

Beban ekonomi keluarga semakin berat ketika sang ayah kemudian pensiun, sementara adik-adiknya yang mulai masuk kuliah butuh banyak uang. Di situlah, kemudian Saf berpikir untuk bisa menutup kebutuhannya sendiri.

“Waktu itu agar kuliah nggak sampai terhenti, saya sampai harus jadi sopir Sudaku (semacam angkutan kota, pen.),” kata Safrizal.

Kuliah sambil mencari uang dijalani Safrizal sampai akhirnya lulus pada tahun 1990. Merasa di Jakarta peluang untuk berkarier lebih terbuka, ia pun ke Ibukota. Di sini ia kebetulan diterima sebagai staf akunting pada Pengelola Kawasan Berikat Indonesia (PKBI).

Ketika PKBI merger dengan PT KBN (Persero), Saf dipercaya sebagai kepala seksi di kantor MM2100 Cibitung, Bekasi. Tak lama kemudian naik sebagai Kepala Cabang Medan.

Ketika mendapat jabatan mentereng itu, ayahnya menurut Safrizal begitu bangga. Tapi, satu hal yang selalu diingat yakni pesan orang tuanya agar bekerja dengan jujur dan amanah.

“Mungkin orang tua waktu itu selalu mengingatkan, karena waktu itu ‘godaannya’ memang besar,” kata Safrizal.

Kembali dari Medan, Safrizal kemudian dipercaya sebagai Kepala Cabang Tanjung Priok, Kepala Bagian Keuangan di Kantor Pusat, Kepala Bagian KBN SBU Cakung, Manajer Properti Non Industri, Manajer Kerja Sama Operaasi (KSO) sampai akhirnya sebagai GM KBN Logistics.

Sebagian besar karier Safrizal dihabiskan terkait operasional perusahaan. Ia mengaku banyak berhubungan dengan pihak luar. Tak berlebihan bila ia mengaku selalu tertantang dengan setiap jabatan yang diamanatkan padanya.

Kesibukan dengan tugas-tugas rutin tak membuat amanah lain sebagai Ketua Koperasi Karyawan (KBN) berjalan terseok. Malah, di bawah kepemimpinannya Kopkar KBN tiga tahun berturut-turut meraih penghargaan sebagai salah satu kopkar terbaik tingkat nasional. Sebuah prestasi yang tak bisa dipandang remeh siapa pun.

Meski kesibukan bertumpuk, toh bagi seorang Safrizal menyebut keluarga sebagai bagian yang begitu banyak telah memberi support atas kariernya. Kalau pulang tidak terlalu malam, ia selalu berusaha untuk shalat berjamaah bersama istri, Sapti Rahayu dan ketiga anaknya, Haikal, Naufal, dan Nabil. Setelah itu biasanya disambung dengan makan malam bersama.

“Keluarga, bagi saya sumber kekuatan dan inspirasi saya,” tutur pria yang kini berusia 53 tahun ini.

Anak-anak yang dari kecil sudah dibekali ilmu agama yang kuat selalu dilibatkan untuk selalu mendoakan bagi orang tuanya agar dimudahkan dalam setiap langkahnya. Begitu pun sebagai orang tua, ketika ada anaknya sedang punya masalah dan perlu dibantu, orang tua langsung ikut mencari solusi dan menguatkan lewat doa bersama.

 “Pernah ketika anak pertama risau karena teman-temannya sudah diterima di PTN, sementara dia belum, kita sekeluarga ikut bantu dengan shalat tahajud dan dhuha. Alhamdulillah, ketika dia sedang pontang-panting cari kampus baru sebagai tujuan kuliah, ternyata Allah kasih kemudahan. Berkat campur tangan Tuhan, anak sulung saya ketika itu diterima di Universitas Indonesia,” kata Safrizal mengenang.

Kepada anak-anaknya, Safrizal, seperti yang juga pernah disampaikan orang tuanya, menekankan pentingnya kejujuran dan keikhlasan dalam bekerja.

Nilai-nilai agama, kebaikan, dan kejujuran itulah yang kemudian juga coba diterapkan dalam keseharian di tempat kerja.

>MAY // MAJALAH KBN