• Factory Manager PT Kahoindah Citra Garment KBN Cakung
  • Pabrik PT Kahocitra Indah Garment KBN Cakung
  • Kunjungan Mendag Belanda ke Kahocitra Indah Garment KBN Cakung
  • Kunjungan Mendag Belanda sampai ke toilet
  • Foto bersama Mendag Belanda saat ke Kahocitra Indah Garment KBN Cakung

Kaho Ingin Jadikan Tempat Kerja Laksana Rumah Kedua Bagi Karyawan

Kaho Ingin Jadikan Tempat Kerja Laksana Rumah Kedua Bagi Karyawan

Thu, 03/23/2017 - 02:33
Posted in:
0 comments

TAK banyak pabrik di lingkungan PT KBN Persero yang sedamai dan senyaman PT Kaho Indah Citra Garment. Di sini hubungan antara buruh dan manajemen tampak begitu harmonis. Tak berlebihan bila perusahaan asal Korea Selatan ini nyaris tak terdengar ada konflik dengan para pekerjanya.

Para buruh ikut berdemo dengan karyawan pabrik atau organisasi buruh lain biasa. Namun, buruh Kaho mendemo manajemennya, itu yang tidak pernah terjadi, paling tidak dalam satu dasawarsa terakhir. Ini tentu menarik, karena tidak jarang perusahaan yang mengerjakan produk-produk ternama dunia seperti Kaho rawan konflik kepentingan.

Tapi, rupanya Kaho beda dengan perusahaan lain. Di sini bisa jadi potret bagaimana keharmonisan antara manajemen dan buruh dipertontonkan. Djauhari Sutiono yang sejak 17 tahun lalu menjabat sebagai factory manager merupakan sosok di balik hubungan antara buruh dan investor yang ‘adem ayem’ itu.

Pria paro baya ini tampak begitu sederhana. Meskipun memegang kendali perusahaan dengan 3.000-an buruh, ia tetap low profile. Dan yang lebih penting, ia tak menampakkan wajah yang sangar. Justru ia tampak begitu dekat dengan para buruh.

Setiap pukul 06.30 WIB ia hampir selalu sudah tiba di kantor. Begitu tiba, biasanya ia langsung mengeli-lingi pabrik. Ia menyapa dan kadang bersalaman dengan para buruhnya. Ketika jam kerja sudah berlangsung pukul 07.00 WIB, ia melihat dari dekat bagaimana para buruh bekerja.

Hubungan struktural antara atasan-bawahan, atau antara buruh dan manajemen nyaris tak terasa lagi. Tak jarang di sela-sela monitor lapangan itu, Djauhari tampak berbincang dengan buruh. Mulai dari soal sepele keseharian sampai urusan pekerjaan.

Dengan cara ‘blusukan’ itu selain untuk menjaga harmoni dengan para pekerja juga untuk mendapatkan masukan dari bawah. “Manajemen begitu terbuka, sehingga di mana pengaduan di blok mana pun akan dengan cepat dicarikan solusinya,” kata Djauhari.

Komunikasi yang baik ini sudah dilakukannya sejak masuk PT Kaho 17 tahun lalu. “Selama ini saya memang nggak pernah ada jarak dengan para pekerja PT Kaho,” kata Djauhari ketika mengantar kami mengelilingi pabriknya yang tampak bersih dan rapi.

Sebagai factory manager, Djauhari memang harus menjembatani dua pihak, investor dengan direksi WNA dan satu sisi lagi kepentingan lokal, yakni para buruh yang bekerja di Kaho.

“Banyak peraturan ketenagakerjaan di Indonesia yang tidak diketahui investor. Sering terjadi salah persepsi dikira aturannya sama de-ngan di negaranya. Dan sinilah saya berfungsi sebagai mediator.”

Hubungan atasan-bawahan di luar negeri yang sangat tegas, tidak bisa diterapkan di Indonesia yang lebih banyak mengedepankan sistem kekeluargaan. Ia mengaku beruntung mendapat kepercayaan dari investor untuk mengelola perusahaan sesuai tata nilai yang cocok di Indonesia.

Keleluasaan ini membuat Djauhari tak ragu untuk menerapkan manajemen kekeluargaan itu. Ia ingin agar Kaho seperti rumah kedua para pekerja. Di Kaho selain diberi gaji sesuai UMP, ada sejumlah fasilitas yang diperlukan buruh. Mulai dari sanitasi, poliklinik, rekreasi, bahkan kebutuhan sejumlah cabang olahraga disediakan oleh perusahaan.

“Saya ingin semua karyawan yang bekerja di sini happy. Kalau karyawan senang akan menghasilkan produk yang bagus. Tak dikejar-kejar target yang bisa bikin karyawan malah stress,” kata Djauhari.

Hubungan industrial yang ada di Kaho ini mendapat perhatian dari Menteri Perdagangan dan Kerjasama Pembangunan Belanda, Lilianne Ploumen saat datang ke Jakarta, beberapa bulan lalu. Saat itu Ploumen melihat dari dekat bagaimana proses produksi, sanitasi, klinik kesehatan, bilik ASI (bagi yang menyusui), sampai serikat pekerja dan HAM.

Kaho Citra Garment merupakan salah satu perusahaan yang paling lama bertahan di KBN. Bergabung sejak 1991 atau tepatnya 26 tahun lalu ketika roda perusahaan bergerak dengan 400-pekerja, kini telah berkembang menjadi lebih dari 3.000 karyawan.

Pada awalnya, Kaho yang bernaung di bawah Hojeon Ltd. Ini lebih memfokuskan diri pada usaha baju wanita, namun sejak 2011 perusahaan beralih ke produk pakaian olahraga. Produk merk dunia seperti Under Amor, Fanatic, Ulvine, baju seragam sekolah di Korea SN10, dan baju kalangan selebriti bermerk Atleta (GAP).

Memegang kepercayaan memproduksi baju-baju bermerk terkenal dengan standar kualitas tinggi ini membuat Kaho tidak menekankan pada target jumlah yang harus di-selesaikan pada karyawan. Kualitas lebih diutamakan. Terlebih buyer dari Amerika dan Eropa yang jadi target utama pemasarannya sangat teliti akan kualitas produk.

Karena tuntutan kualitas ini pula, para karyawan yang skill-nya masih belum memenuhi standar harus melakukan pelatihan atau semacam diklat yang biasanya mengadakan semacam diklat pada hari libur yakni Sabtu.

“Kita beda dengan perusahaan lain yang lebih menekankan pada target. Di sini lebih pada ketrampilan dan kualitas pekerjaan,” kata Djauhari.

Hubungan antara manajemen dan karyawan yang baik ditambah dengan adanya pembinaan ini membuat banyak karyawan bekerja sampai masa pensiun. Bahkan angka keluar-masuk pegawai di sini sangat rendah. Ini mungkin jarang terjadi di perusahaan garmen mana pun.

Siang itu sejumlah pegawai yang sebenarnya sudah memasuki pensiun setelah menerima pesangon diangkat kembali sebagai karyawan. Mereka tampak begitu gembira bisa dikaryakan lagi sebagai mentor bagi para karyawan junior.

Manajemen kekeluargaan yang kadang dikonotasikan negatif, ternyata mampu mendorong produktivitas dan kelangsungan produksi terus berjalan dengan baik. Paling tidak ini terbukti di PT Kaho Citra Garment yang sudah 26 tahun bertahan di KBN dengan produk-produk kualitas tinggi yang diakui dunia internasional.

 MAY | MAJALAH KBN 011