• Sosialisasi holding BUMN Sektor Kawasan di KBN. -INFOKBN.com-

KBN Menuju Holding BUMN Sektor Kawasan

KBN Menuju Holding BUMN Sektor Kawasan

Mon, 10/21/2019 - 04:43
Posted in:
0 comments

Sebanyak 11 badan usaha milik negara (BUMN) bergabung dalam wadah holding BUMN Sektor Kawasan. Pembentukan holding BUMN dilakukan pemerintah untuk mendongkrak kinerja BUMN dan membuat pengelolaan perusahaan profesional dan kompetitif.

SETELAH kurang lebih dua tahun bergulir, rencana Kementerian BUMN membentuk holding sektor kawasan mulai menampakkan wujudnya. BUMN Sektor Kawasan disebut-sebut akan dikukuhkan sebagai nama holding baru yang banyak dinaungi BUMN kawasan industri itu.

Sedianya, Kementerian BUMN semula akan meluncurkan pembentukan holding itu pada September 2019. Namun, rencana tersebut kemungkinan akan mundur sampai ada pengumuman susunan kabinet yang baru.

Yang pasti, sosialisasi di level komisaris dan direksi sudah dilakukan. Bahkan, pada Agustus lalu, pemaparan di hadapan jajaran BUMN yang masuk dalam holding tersebut sudah dilakukan. Salah satunya yang terjadi di PT KBN Persero, salah satu BUMN yang masuk sebagai salah satu anggota holding tersebut.

Puluhan pejabat dan karyawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Perse-ro) mengikuti sosialisasi pembentuk-an holding BUMN sektor kawasan yang digelar di kantor pusat KBN, pada 2 Agustus 2019 itu.

Sosialisasi dihadiri Asisten Deputi Bidang Usaha Konstruksi, Sarana dan Prasarana Perhubungan III Kementerian BUMN, Hendrika Nora O. Sinaga, Direktur Utama PT KBN (Persero) HM Sattar Taba, Direktur Keuangan KBN Daly Mulyana, dan Direktur SDM dan Umum PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), J. Nanang Marjianto, dan Ketua Forum Komunikasi (Forkom) KBN.

Kehadiran direksi PT RNI itu tak lepas dengan ditunjuknya PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menjadi induk holding BUMN sektor kawasan tersebut.

Dalam paparan dijelaskan tentang 11 perusahaan yang masuk holding sektor kawasan; yakni PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Persero, PT Kawasan Industri Medan (Persero), PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), PT Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero) atau PT KIW, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP),  PT Kawasan Industri Makassar (KIMA),  PT Sang Hyang Seri (Persero), dan  Kawasan Industri Lampung (KAIL).

Untuk diketahui, holding company atau perusahaan induk berperan sebagai pemegang saham dalam beberapa perusahaan anak (subsidiary company), dengan tujuan agar meningkatkan kinerja perusahaan dan memungkinkan terciptanya nilai pasar perusahaan (market value creration).

Asisten Deputi Bidang Usaha Konstruksi, Sarana dan Prasarana Perhubungan III Kementerian BUMN, Hendrika Nora O Sinaga mengatakan, pembentukan holding BUMN sektor kawasan ini merupakan tuntutan arus globalisasi dan dinamika bisnis yang mengharuskan adanya supply-chain yang terintegrasi.

“Dengan terbentuknya holding ini, BUMN yang bergerak di sektor kawasan industri akan semakin maju dan efisien. Tantangan dari luar yaitu pasar global hari ini menuntut daya saing yang tinggi, sementara tantangan dari dalam yaitu BUMN harus berkontribusi besar menjadi agen perubahan.,” katanya.

Karenanya, BUMN tidak dapat lagi bergerak sendiri-sendiri, diperlukan sinergi dan kerjasama, bukan justru melakukan persaingan antar BUMN. Sehingga dengan holding BUMN, diharapkan dapat maksimal mengelola potensi negara kita secara mandiri.

Hendrika Nora O Sinaga menyebut bila salah satu anggota holding akan ekspansi tentu akan mendapat dukungan dari perusahaan sesama anggota holding.

Yang jelas menurut Nora O Sinaga, pembentukan holding ini akan memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan.

Pertama, yang pasti akan mening-katkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan teknologi jauh lebih baik. Dengan begitu, tingkat pelayanan yang akan diberikan kepada masyarakat atau konsumen akan lebih maksimal.

Dengan kapasitas holding yang besar tentu bisa membuat lebih banyak produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat maupun pemerintah.

“Penetrasinya juga akan semakin luas, dari jaringan hanya puluhan misalnya bisa jadi ratusan. Inklusi keuangan pun akan ikut meningkat,” katanya.

Dengan kapasitas yang akan jauh lebih kuat, holding juga dapat dengan mudah bekerjasama dengan mitra internasional seperti misalnya dalam hal kerjasama pengembangan produk. Karenanya, Nora O Sinaga berharap holding BUMN sektor kawasan ini secepatnya terbentuk.

Sementara itu Direktur SDM dan Umum PT RNI, J. Nanang Marjianto dalam paparannya mengharapkan adanya pembentukan holding ini akan menciptakan sinergi antar-anak perusahaan melalui koordinasi, pengendalian, serta pengelolaan yang dilakukan oleh induk perusahaan. Masing-masing akan memainkan perannya masing-masing, sehingga akan menghasilkan value creation, efisiensi, dan menambah kapasitas.

RNI yang punya lahan luas bersama anggota holding tentu ingin mengembangkan sebagian lahan yang dimiliki agar lebih produktif dan berkontribusi bagi negara. Salah satunya yang dalam kajian untuk dibangun sarana pendukung pela-buhan Patimban, Subang.

Di luar itu, untuk mendukung upaya pemerintah di bidang pengembangan perkotaan, di antara lahan yang dimiliki di Subang bisa dikembangkan jadi kota mandiri. Untuk pengembangan ini tentu membutuhkan modal yang tidak kecil. Dengan holding, diharapkan, biaya pembangunan yang besar bisa ditopang bersama anggota holding.

Adanya holding menurut Direktur Utama PT KBN (Perse-ro) HM Sattar Taba akan banyak memberi manfaat atau keuntungan bagi perusahaan.

Dirut KBN ini merasakannya ketika masih menjabat sebagai Direktur Utama Semen Tonasa yang tergabung dalam holding BUMN semen yaitu Semen Indonesia. Ini merupakan holding BUMN yang pertama terbentuk.

“Kalau holding BUMN kawasan sudah berjalan, dampaknya akan dirasakan oleh KBN juga. Bisnis kawasan ini akan lebih menjanjikan, laba dan pendapatan akan lebih baik. Sebab ada efisiensi biaya. Banyak peluang usaha. Kawasan ini bisa mendunia,” katanya.

Sattar mengungkapkan, bila KBN membutuhkan dana untuk pengembangan kawasan di luar Jakarta, bisa sharing dengan sesama anggota holding BUMN kawasan.

“Seperti kita tahu bahwa PT RNI punya lahan yang cukup luas di dekat Pelabuhan Patimban. Kita bisa kelola lahan itu menjadi kawasan pendukung pelabuhan tanpa harus membeli lahan,” jelas Sattar Taba. [MAJALAH KBN #020/MY]