• Kunjungan KBN ke China. -ANOM WIBISONO-

KBN Terus Bertransformasi dan Ekspansi Menuju Perusahaan Global

KBN Terus Bertransformasi dan Ekspansi Menuju Perusahaan Global

Tue, 04/02/2019 - 03:31
Posted in:
0 comments

KBN bekerja keras untuk masuk dalam perusahaan kawasan industri BUMN yang bukan saja terus berinovasi dan melakukan ekspansi ke sejumlah daerah, tapi mampu jadi mitra investor manca negara. Selain untuk memperkuat struktur modal, tentu ada  nilai tambah dalam hal teknologi dan transformasi yang terus berjalan.

MASIH ingat gagasan besar Indonesian Integrated Industrial Estate (I3E) yang dicanangkan pemerintah tahun 2018 lalu?

Kawasan industri modern terintegrasi bertaraf internasional itu memang lama tak terdengar kabar beritanya. Namun, proses ke arah kawasan industri tersebut terus berjalan.

BUMN-BUMN kawasan industri siap untuk melaksanakan keinginan pemerintah tersebut. Atas arahan dari Asisten Deputi KSPP (Konstruksi, Sarana Prasana Perhubungan) Kementerian BUMN, BUMN KI sepakat untuk bersama-sama mewujudkan rencana besar itu.

IIIE atau I3E diprioritaskan untuk memacu pertumbuhan baru di Indonesia bagian Timur. Ada sejumlah kabupaten/kota yang akan jadi taget I3E di Sulawesi Selatan. Namun, harga tanah yang terus meninggi dan pembahasan skema pembiayaan yang tak kunjung tuntas membuat rencana tersebut sedikit tersendat.

Di tengah masa depan I3E yang masih mengambang itu, tampaknya KBN mendapat peluang besar ketika delegasi investasi asal China yang bernaung di bawah bendera CMRA (China Nonferrous Metals Industry Association) sedang mencari tempat investasi baru di Indonesia, akhir 2018 lalu.

CMRA yang terdiri atas perusahaan-perusahaan daur ulang non besi menginginkan lahan tahap pertama sekitar 300 hektar yang akan terus bertambah menjadi 1.000 hektar lebih dengan total investasi mencapai sekitar 50 triliun rupiah.

Tertarik dengan rencana tersebut, KBN bergerak cepat mencari lahan industri yang diingini investor. Ada tiga lokasi yang jadi pilihan, Kuala Tanjung di Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Gubernur Sulawesi Selatan dan kemudian Bupati Takalar secara khusus mendatangi KBN meminta daerahnya dijadikan tujuan investasi industri.

Sulawesi Selatan yang sebelumnya telah diprogramkan pemerintah pusat bagi pengembangan kawasan industri terintegrasi berskala internasional (I3E) tampaknya lebih berpeluang untuk digandeng KBN.

Takalar yang disodorkan Pemprov Sulsel dan Pemkab Takalar dinilai lebih cocok. KBN dan Pemkab Takalar pun kemudian membuat MoC (Memorandum of Cooperation).

Berbekal nota kesepahaman itulah KBN kemudian membawanya ke ajang pertemuan lanjutan yang berlangsung di China, awal Maret lalu.

Delegasi KBN dipimpin Direktur Pengembangan Rahayu Ahmad Junaedi didampingi Direktur Keuangan Daly Mulyana serta sejumlah pejabat terkait langsung bertemu dengan para pimpinan perusahaan di bawah bendera CMRA, perwakilan pemerintah bidang kerjasama luar negeri China, dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Meski di luar Indonesia masih ada peluang bagi investor China untuk memilih Thailand atau Vietnam, namun melihat keseriusan yang ditunjukkan CMRA, Indonesia tampaknya di ‘atas angin’ akan jadi pilihan utama.

National Development Reform Commision (NDRC) yang menangani proyek-proyek besar berskala internasional kemungkinan besar akan menjadikan investasi ini bukan lagi berskema B to B (business to business) antara BUMN KBN dan CMRA, tapi jadi antar pemerintah RI dan China atau G to G (Goverment to Government) yang di China dikenal dengan proyek Road & Belt (Jalan Sutra).

Baik G to G atau B to B KBN tak terlalu mempersoalkannya. Yang jelas kedua-duanya bisa memberi keuangan bagi KBN.

Dalam skema G to G misalnya, KBN bisa menggandeng Pemda, Pelindo IV, dan pihak terkait untuk menyiap-kan kawasan industri terintegrasi di Takalar. Dalam hal pengadaan lahan, KBN tidak perlu keluar banyak modal, karena Pemda memfasilitasi dengan pola sewa, sehingga dampak dari kehadiran industri tersebut akan ada multiplier effect ekonomi di Sulsel.

Yang jelas untuk memenuhi skema G to G, KBN tengah berupaya memenuhi sejumlah persyaratan dengan target pada Maret atau April ini bisa diselesaikan.

“Proyek ini workable, saya sih optimis, insya Allah bisa dikejar,” kata Direktur Pengembangan KBN, Rahayu A Junaedi.

Untuk mempercepat pemenuhan persyaratan seperti yang diminta NDRC, KBN sudah menggandeng konsultan PT Bina Karya (Persero). Sementara itu untuk kelancaran menyangkut lahan untuk lokasi industri, KBN berbagi peran dengan Pemprov Sulsel, Pemkab Takalar, dan terkait pelabuhan mengajak serta PT Pelindo IV.

Bagi KBN, ini tantangan besar. Sebuah lompatan. Dari gaya KBN lama yang cenderung marjinal, bisa menjadi perusahaan yang bukan saja mampu ekspansi ke luar Jakarta, tapi sekaligus menggandeng perusahaan bertaraf internasional.

Delegasi KBN yang mendapat kesempatan mengunjungi salah satu smelter milik perusahaan daur ulang non besi (ferros), Southwest Aluminium melihat bahwa pengolahan tersebut aman bagi lingkungan.

Bahan baku berupa metal masuk tanur dan sama sekali tidak meninggalkan sampah (buangan). Hasil olahan dari smelter tersebut bisa berupa komponen untuk mobil, pesawat, bahkan roket.

“Tampaknya memang masih banyak yang salah persepsi, sehingga daur u-lang metal non ferros itu kurang ramah lingkungan. Buktinya, tidak begitu,” kata Dirbang KBN, Rahayu A Junaedi.

Recycling industry merupakan industri baru bagi Indonesia. CMRA dan KBN berencana ingin bersama-sama mengenalkannya kepada publik dalam sebuah seminar internasional tentang daur ulang (recycling) di Jakarta, beberapa waktu mendatang.

//MAJALAHKBN/MAY