• Pasar bebek yang baru di RPHU Rorotan, Jakut. -INFOKBN.com-

Melongok Pasar Bebek yang Baru di RPHU Rorotan

Melongok Pasar Bebek yang Baru di RPHU Rorotan

Sat, 08/11/2018 - 02:00
Posted in:
0 comments

Di pasar bebek yang baru RPHU Rorotan, selain bagunan yang besar dan memadai, juga semua perlengkapan disiapkan. Kalau di Pasar Bebek Marunda yang lama cuma beli dan bawa pulang, nah di sini selain semua unggas disembelih, juga sekaligus dibersihkan.

KEPINDAHAN Pasar Bebek dari Marunda ke Rorotan, Januari 2018 lalu memberi nuansa baru. Di areal relokasi, pedagang bisa berjualan dalam lingkungan yang lebih baik. Para calon pembeli pun bisa bertransaksi dalam suasana yang lebih nyaman.

Pemprov DKI Jakarta menyediakan lahan khusus yang dinamai Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) untuk relokasi pasar bebek di Marunda tersebut. Selain bebek, di pasar seluas 4.582 meter persegi itu juga dijual ayam, dan unggas lainnya -- tidak secara khusus bebek seperti di tempat lama.

Tidak seperti sewaktu masih di Marunda yang tampak selalu ramai, di tempat baru memang relatif sepi pengunjung. Tampak-nya banyak yang tidak tahu tempat baru pasar bebek tersebut. Apalagi di tempat lama, maupun di sejumlah persimpangan strategis belum ada papan penunjuk arah yang biasanya disediakan Pemda.

Salah seorang pedagang bebek yang pagi itu kami temui, Hamdi pun mengakuinya. Perlu waktu relatif lama untuk mensosialisasikan kepindahan tempat berjualan ke RPHU itu kepada masyarakat.

“Penghasilan menurun sih pasti. Tapi, saya optimis ke depan akan semakin ramai. Apalagi di sini lebih luas, lebih nyaman, dan perparkirannya pun begitu lega,” kata Hamdi.

Memang diakuinya, secara penghasilan terjadi penurunan. Tapi, melihat pasokan bebek dari daerah seperti Cirebon, Indramayu, Su-bang, dan sekitarnya belakangan menurun, juga sebenarnya juga ikut berpengaruh pada penghasilan para pedagang.

“Dulu tiap malam dari Cirebon, Indramayu, Subang paling nggak masing-masing daerah itu memasok ke pedagang bebek dua truk, sekarang masing-masing tinggal satu truk. Jadi cukup drastis juga penurunan-nya,” lanjut Hamdi.

Pedagang lain, Baihaqi mengaku pasrah dengan kenyataan masih sepinya di tempat baru. “Emang sudah harus seperti itu. Ya ngikutin aja. Pendapatan pasti menurun karena tempat yang baru. Tapi rezeki kan udah ada yang atur,” ujarnya.

Abdulrahman (50), salah satu pedagang yang sudah 10 tahun berjualan entok di Pasar Bebek Marunda menyambut baik proses relokasi tersebut. Pasalnya tempat yang ada sekarang, jauh lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Hanya saja ia tidak memungkiri ada proses yang harus dijalani.

“Selama ini orang tahunya Pasar Bebek Marunda, jadi kalau untuk awal-awal pasti ada pengaruh pada penghasilan. Semoga saja di tempat baru ini ke depan bisa cepat ramai dari yang ada kemarin,” tuturnya.

Wakil Ketua Pagu-yuban Pedagang Pasar RPHU Rorotan, Sutiman yakin berkurangnya pembeli pada awal-awal pindah sekarang ini tak berlangsung lama.

Bagaimanapun lokasi baru yang lebih baik, lebih memadai, dan lebih nyaman akan membuat calon pembeli semakin nyaman dalam mendapatkan hewan unggas untuk konsumsi keluarga maupun dipasarkan lagi di tempat lain.

RPHU Rorotan berdiri persis di jalan raya yang menghubungkan Rorotan dengan Marunda. Berdiri di atas lahan seluas 4.821 meter persegi, di dalamnya terdapat penampungan unggas sebanyak 34 unit, pemotongan unggas manual sebanyak 5 unit, dan pemotongan semi otomatis satu unit. Selain itu juga terdapat toilet, kantin, instalasi IPAL, penampungan air, pos jaga dan genset.

Yang tidak ada di tempat lain, di RPHU ini dilengkapi peralatan untuk mencabuti bulu unggas. Menggunakan teknik pencelupan dalam rebusan getah, tempat ini menurut pedagang mampu menciptakan lapangan kerja baru warga sekitar.

“Kalau di Pasar Bebek Marunda yang lama cuma beli dan bawa pulang, nah di sini selain semua unggas disembelih, juga sekaligus dibersihkan. Pokoknya kalau mau dibawa pulang atau dijual ke pasar-pasar sudah bersih,” kata pemilik salah satu los fasilitas pencabutan bulu ayam tersebut.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Peternakan (KPKP), Sri Hartati mengatakan pemindahan 34 pedagang unggas di Pasar Bebek di RPHU Rorotan berdasarkan SK Gubernur.

Pemindahan pasar yang sudah ada sejak 1996  itu, selain berada di jalur hijau KBN, juga di bawahnya tertanam gas Pertamina, sehingga sangat membahayakan keselamatan para pedagang. “Karena lokasi jualan mereka di tepi jalan dan banyak diprotes warga,” katanya.

RPHU Rorotan yang terletak di Jl. Rorotan V RT 01/013 Rorotan, Cilincing tersebut telah dilengkapi sarana mushola, kantin, kantor ruang administrasi, etalase penampungan, tempat pemotongan bebek atau unggas manual dan semi otomatis. Selain itu, sistem drainase RPHU sudah ditata untuk memilah air limbah dan air kotor.

Di dalam area RPH terdapat delapan gedung yang dikhususkan mulai dari kandang hingga persiap-an dan pemotongan semi otomatis dan manual.

Saat ini ada sebanyak 47 pelaku usaha, terdiri dari pelaku usaha penampungan, pemotong dan pedagang makanan minuman dari lokasi lama yang ditampung di sini. Setiap los menurut pedagang, saat ini hanya dikenai biaya sewa Rp75.000 per bulan.

Daya tampung RPH Unggas Rorotan mencapai 50.000 ekor. Namun kini per hari baru ada 10 persen atau 5.000 bebek yang ada di RPH tersebut.

Diharapkan dua tahun ke depan jumlah unggas bebek yang tertampung bisa bertambah menjadi 50 persen. Lalu, bisa optimal mencapai 70-75 persen. Hal ini karena permintaan bebek itu sangat tinggi dan selama ini kendalanya selalu dalam hal pasokan.

Kepala Dinas KPKP DKI, Darjamuni akan menjalin kerjasama dengan pengusaha dan daerah pemasok untuk mengantisipasi kekurangan pasokan tersebut. Sebab, kalo pasokan terganggu secara otomatis imbasnya akan pada harga dan operasional RUPH secara keseluruhan.

> TITOK MS // MAJALAH KBN #015