• Kunjungan ke Benning Foods Parung, Bogor. -INFOKBN.com-
  • Mengikuti paparan Sukhaeri dari Rumah Tempe. -INFOKBN.com-
  • Berbelanja produk Benning Foods. -INFOKBN.com-
  • Mengikuti paparan Purnani, pemilik Benning Foods.  -INFOKBN.com-
  • Foto bersama boss tempe higienis yang juga pengurus KOPTI Bogor, Sukhaeri. -INFOKBN.com-
  • Pembuatan tempe higienis di Rumah Tempe Indonesia. -INFOKBN.com-

Mitra Binaan PKBL KBN Kunjungi Pembuatan Tempe Higienis & Olahan Ikan di Bogor

Mitra Binaan PKBL KBN Kunjungi Pembuatan Tempe Higienis & Olahan Ikan di Bogor

Mon, 04/01/2019 - 11:03
Posted in:
0 comments

SEBANYAK 30 mitra binaan PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) PT KBN Persero mendapat kesempatan mengunjungi pembuatan olahan ikan dan tempat pembuatan tempe higienis di Bogor, 18-19 Maret 2019.

Kegiatan yang untuk pertama kali dikelola tim PKBL ini merupakan bentuk apresiasi kepada para mitra yang telah memenuhi kewajibannya dengan baik.

Direktur Keuangan PT KBN Persero, Daly Mulyana saat memberi pembekalan mengatakan, KBN selain memberikan kredit bergulir juga menyertainya dengan pelatihan. Hal ini semata-mata agar usaha yang dijalani para mitra terus berkembang.

“KBN memberi tambahan ilmu ini agar usaha bapak-ibu lebih baik. Kita kasih kesempatan untuk melihat UKM di tempat lain yang berhasil dengan harapan bisa jadi referensi dalam mengembangkan usaha, sehingga produk yang dihasilkan punya nilai tambah,” kata Daly Mulyana.

Untuk punya nilai tambah (value added), sebuah produk, lanjut Dirkeu, perlu memperhatikan proses pembuat-an, kemasan (packing), pemasaran, dan pelayanan (service). “Jadi, saat berada di UKM yang dikunjungi nanti, silakan tanyakan sebanyak mungkin apa yang perlu Bapak-Ibu ketahui,” pesan Daly Mulyana.

Dirkeu menginginkan usaha yang digeluti para mitra KBN semakin maju dan  lebih banyak menyerap tenaga kerja. Ketika sudah maju, segera lepas dari PKBL. Kalau butuh dana, Dirkeu meminta agar jangan datang lagi ke PKBL, tapi lebih baik ke bank, agar kredit yang diperoleh bisa lebih besar.

Olahan Ikan di Benning Foods

Pada hari pertama pelatihan, para peserta diberi kesempatan mengunjungi usaha olahan ikan dan udang, Benning Foods di Parung, Kabupaten Bogor.

Di sini para peserta mendapat penjelasan yang rinci tentang usaha yang dikembangkan Benning Foods, yang bermula dari modal kecil sampai mendapat mendapat kredit lunak dari Kementerian Kelautan & Perikanan RI sebesar Rp3 miliar.

Kini Benning Foods yang menghasilkan produk makanan olahan ikan non MSG seperti somay, fish roll, otak-otak, dan lainnya telah mampu menampung 30 tenaga kerja dengan pemasaran produk ke sejumlah supermarket, kantin, dan resto di sekitar Bogor.

Benning Foods yang punya sertifikasi pengolahan ikan dengan lembaga tersendiri di bawah bendera Benning Foods juga dijadikan tempat praktik kerja lapangan (PKL) sejumlah SMK dan perguruan tinggi se-Indonesia. Saat kunjungan lalu, tercatat 74 siswa dan mahasiswa PKL di Benning, di antaranya dari IPB.

Ny. Purnani, pemilik Benning Foods menjamin para siswa SMK yang PKL di lembaganya yang sudah diakui secara nasional, benar-benar bisa mandiri. Bahkan, para siswa yang PKL sampai 4 bulan biasanya sudah punya keahlian lain di luar pengolahan ikan, seperti membuat donat, aneka makanan dari pisang, dan lain sebagainya.

“Keahlian tambahan itu hitung-hitung sebagai inovasi bisnis untuk antisipasi kala usaha inti pasarnya lagi lesu,” kata Purnani yang mengaku sudah melatih lebih dari 1.000 siswa magang dari seluruh penjuru tanah air.

Tempe Higienis di Rumah Tempe

Pada hari kedua semua peserta pelatihan mendapat kesempatan melihat dari dekat pembuatan tempe yang lebih higienis di Rumah Tempe Indonesia (RTI) yang sekaligus jadi kantor Koperasi Tahu Tempe se-Indonesia (KOPTI).

Sukhaeri, pemilik merk “Tempekita” sekaligus pengurus KOPTI Jabar secara panjang-lebar mengulas liku-liku usaha tempe, dari sejarah, kandungan gizi, sampai perkembangan terkini.

Tempekita merupakan brand yang dikembangkan Sukhaeri. Berbeda dengan tempe kebanyakan, Sukhaeri memilih pasar premium, tempe yang jauh lebih higienis dari tempe-tempe yang dengan mudah dijual di gerobak sayur atau pasar-pasar tradisional.

Kantor usaha pun tampak begitu bersih mirip perusahaan modern. Ruang produksi tampak bersih dan jauh dari bau menyengat yang biasanya berasal dari limbah buangan yang tak dikelola secara baik di sekitar pabrik.

Sejumlah pegawai menuturkan, limbah buangan pabrik tahu didaur ulang jadi sumber energi berupa gas yang bisa dimanfaatkan untuk memasak.

Sukhaeri memang sudah identik dengan tempe higienis. Dengan keunggulan tersebut, ia sengaja membidik pasar elite alias premium. Segmen pasarnya memang sangat sempit, tapi ia mengaku bisa bermain lebih leluasa sekaligus terhindar dari ‘perang harga’ yang sangat tidak sehat di antara pembuat tempe biasa.

Tempekita tidak dipasarkan seperti tempe-tempe pada umumnya, tapi hanya memproduksi sesuai pesanan sejumlah supermarket yang jadi mitra. Tidak ada retur, apalagi risiko barang rusak jadi beban pembuat tempe. Pola ini membuat kerugian bisa ditekan dan margin keuntungan lebih pasti.

Strategi bisnisnya yang melawan arus pada awalnya diakuinya banyak mendapatkan hambatan, namun setelah sekian tahun berjalan, usahanya semakin mulus. Kalau pembuat tempe biasa bisa seenaknya diatur oleh pelaku pasar, di sini Sukhaeri justru punya bargaining kuat dengan sejumlah pusat belanja yang dipasok.

Tempe yang di luar negeri disebut sebagai superfood dan harganya kalau dirupiahkan dua kali lebih mahal ketimbang harga daging sapi, menurutnya, sudah saatnya ‘naik pangkat’. Di sinilah perlu upaya dari UKM-UKM baru untuk memperjuangkan makanan ini lebih bergengsi dan bernilai jual tinggi.

Bagi Sukhaeri, Rumah Tempe hanyalah sebuah model bagaimana pola produksi tempe yang baik dan memenuhi standar keamanan pangan dilakukan. Produksinya tiap hari hanya sekitar 2,5 kuintal atau hanya sekitar 35 persen dari kapasitas produksi yang dimiliki.

Tapi, sebagai model sampai sekarang banyak pelaku usaha tempe dari dalam dan luar negeri yang mengunjungi tempat pembuatan tempe satu-satunya yang telah menggunakan SOP (standar operasional prosedur) ini.

Menurut Sukhaeri, banyak yang menafsirkan keliru dikira higienis itu identik dengan kemahalan. Padahal, itu hanya budaya yang bisa dilakukan siapa pun. Karena bahan baku sama, air, bahkan peralatan yang dipakai boleh jadi sama, tapi pengolahannya yang memang memenuhi standar.

Uniknya, dengan harga yang telah dipatok jauh lebih mahal saat usaha berdiri 6 Juni 2012, Tempekita baru sekali menaikkan harga. Bahkan, ketika heboh harga kedele sebagai bahan baku tempe melonjak tinggi akibat tekanan impor,  Tempekita sama sekali tidak menaikkan harga.

Harga yang tak fluktuatif itu boleh jadi membuat konsumennya yang loyal semakin menyukai tempe premium ini.

>>MAJALAH_KBN_019/MAY