• Masterplan TIIP. -PERENCANAAN-

Peluang Emas Berinvestasi di Takalar Integrated Industrial Park

Peluang Emas Berinvestasi di Takalar Integrated Industrial Park

Sun, 01/05/2020 - 16:10
Posted in:
0 comments

Sebanyak 16 perusahaan daur ulang (recycling) asal China di bawah bendera CMRA telah menyatakan kesiapannya bergabung di kawasan industri baru, Takalar Integrated Industrial Park (TIIP), Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pada tahap pertama KBN  akan membangun 350 hektar lahan industri yang akan terus dikembangkan sampai 10 tahun ke depan dengan total luasan 3.500 hektar. Di kawasan ini nantinya akan menyerap investasi sebesar Rp42 triliun lebih.

KAWASAN Industri Takalar akan merupakan salah satu langkah strategis PT KBN Persero di tahun 2020. Ekspansi bisnis ini diharapkan akan membawa perubah-an bagi KBN pada khususnya dan BUMN kawasan pada umumnya.

Kawasan industri terintegrasi di Takalar atau Takalar Integrated Industrial Park (TIIP) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan merupakan langkah penting KBN, karena inilah untuk pertama kalinya KBN mengepakkan sayap bisnisnya sampai jauh di Celebes sana.

Selama ini KBN identik dengan Cakung, Priok, dan Marunda. Padahal, di balik namanya yang Kawasan Berikat Nusantara, sebenarnya kurang pas kalau hanya berkibar di seputaran Jakarta saja.

“Ini bisa jadi milestone, bukan saja bagi KBN, tapi juga Kawasan industri BUMN lain yang selama 33 tahun ini stagnan,” kata Direktur Pengembang-an PT KBN Persero, Rahayu Ahmad Junaedi dalam paparan Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti pejabat Kementerian BUMN dan sejumlah pimpinan BUMN infrastruktur dan yang bisnisnya terkait.

KBN begitu antusias untuk ekspansi membangun kawasan industri baru karena sudah punya pasar. Peminat sudah menunggu. Dirbang KBN mengaku tidak mau kehilangan momen, investor itu berpindah ke negara lain. Karenanya, ia me-ngajak semua pihak untuk bergotong-royong, bersama-sama mendorong agar proyek besar di bidang investasi ini benar-benar segera terwujud.

Rahayu A Junaedi menangkap keinginan CMRA (China Nonferrous Metals Industry Association Recycling Metal Branch) yang akan memindahkan pabriknya dari kawasan industri mereka di China ke Indonesia merupakan peluang besar.

“Kalau pemerintah mau mendatang-kan investasi sebanyak-banyaknya ke Indonesia, sekarang ini investor sudah di depan mata,” kata Rahayu A Junaedi.

Selain Takalar, KBN sebenarnya menawarkan dua tempat lain yang sama-sama memenuhi syarat, yakni Kuala Tanjung di Sumatera Utara dan Rembang di Jawa Tengah. Namun, dari semua tempat yang sudah dikunjungi, CMRA lebih tertarik dengan Takalar di Sulawesi Selatan.

Tim dari CMRA sudah datang dan melihat langsung lokasinya, dan mereka cocok dengan Takalar.

Tiga Klaster

Pada tahap awal KBN akan membangun seluas 350 hektar di Kecamatan Mangarabombang, Takalar. Ditargetkan dalam 10 tahun akan dibangun seluas 3.500 hektar dengan total investasi sekitar Rp42 triliun rupiah.

Direktur Pengembangan KBN menjelaskan di atas lahan 3.500 hektar yang diperlukan di Takalar Integrated Industrial Park (TIIP) nantinya akan dibagi dalam tiga klaster, yakni klaster untuk pengolahan (recycling non ferros), petrokimia dan agrikultur.

Penambahan Takalar Industrial Park kalau berhasil direalisasikan akan memberi kontribusi yang besar bagi BUMN Kawasan Industri yang selama ini dari 6 kawasan industri BUMN yang ada nyaris tak pernah bertambah dari angka 6.000 hektar menjadi dua kali lebih luas.

CMRA tertarik dengan Takalar karena melibatkan BUMN dan swasta, serta Pemda setempat. Konsep ini beda dengan yang selama ini ada di Vietnam dan Malaysia. Bila terealisasi, investasi ini akan jadi percontohan bagi negara lain, khususnya kawasan lain di Asia Tenggara yang masih menjadi kawasan industri biasa.

Kawasan industri Takalar nantinya akan jadi kawasan berikat (bonded) recycling, sehingga akan ter-manage dengan baik. Pola seperti ini kabarnya akan digunakan Malaysia untuk menggaet investor asing.

Konsep berbasis bonded zone untuk CMRA ini sempat menjadi bahasan dalam konferensi CMRA yang berlangsung di Yingbo, China, baru-baru ini. Pada pertemuan tersebut tim dari KBN di bawah pimpinan Dirbang Rahayu Ahmad Junaedi, Bupati Takalar, dan pejabat Kementerian BUMN dan BKPM turut hadir.

KBN dan CMRA juga telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Takalar Industrial Park.

Setelah kesepakatan diteken, KBN tengah berupaya mengebut perizinan dan kerjasama pembangunan infrastruktur; di antaranya listrik dengan PT PLN, telekomunikasi dengan PT Telkom, air minum dengan PT Jasa Tirta II, rencana pengembangan dermaga di Takalar dengan Pelindo III, dan kerjasama BUMN lain.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan kekayaan sumber daya alam yang ada di Takalar harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Pihaknya telah meninjau lokasi pembangunan kawasan industri tersebut beberapa waktu lalu.

“Calon investornya sudah ada, pengembangnya juga ada, serta pemerintahnya mendukung dan kepala daerahnya juga, kami optimis potensi ini bisa jadi nyata,” katanya dalam keterangan yang dilansir bisnis.com, Sabtu (14/9/2019).

Investor yang akan mengucurkan dana di Takalar berasal dari Malaysia dan China. Menurutnya, sinergi para pemangku kepentingan sangat diperlukan agar pembangunan kawasan industri Takalar terwujud. “Kami pun ingin Kabupaten Takalar selangkah lebih maju dari daerah lain.”

Kementerian Perindustrian mendorong agar kawasan industri baru berada di luar Pulau Jawa. Hal ini untuk mendorong perekonomian daerah sekaligus pemerataan investasi asing.

Dody menilai kawasan industri Takalar yang berjarak 25 km dari pelabuhan membuat ketersediaan air industri melimpah. Selain dekat dengan pelabuhan Soekarno-Hatta, juga terdapat kawasan pantai dan waterfront yang berpotensi menjadi pelabuhan khusus.

Bupati Takalar H. Syamsari yang pada kunjungannya ke China me-ninjau pabrik pengolahan milik CMRA optimistis dengan pembangunan kawasan industri Takalar dapat menjadi penunjang industri bagi Ibu Kota Baru. Menurutnya, kawasan tersebut akan sangat atraktif bagi investor China mengingat akan ada jalur transportasi langsung ke Selat Malaka.

“Kami yakin, melalui kawasan industri ini, nantinya Sulawesi Selatan termasuk Makassar, Kabupaten Takalar dan Bantaeng akan menjadi penyokong sektor industri di ibukota baru karena berhadapan langsung,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Takalar, pejabat di Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, bersama KBN telah mengunjungi Zhaoqiang yang jadi ‘markas’ CMRA. Dengan luas 2.000 hektar, di kota Zhaoqiang dan Wuzhou terdapat pabrik daur ulang logam non ferrous yang diolah jadi mesin-mesin, suku cadang, dan sekaligus perakitan mesin-mesin yang suku cadangnya berasal dari daur ulang tersebut.

Untuk di Takalar nantinya bahan baku impor yang dengan fasilitas kawasan berikat kemudian diproses. Setelah jadi, produk diekspor kembali.

//MAJALAH KBN_021/MY