• -IST-

RSU Pekerja Raih “Batang Emas” Kaizen Festival Nasional 2019

RSU Pekerja Raih “Batang Emas” Kaizen Festival Nasional 2019

Mon, 10/28/2019 - 13:24
Posted in:
0 comments

RUMAH Sakit Umum Pekerja (RSUP) KBN meraih penghargaan “Batang Emas” untuk katagori “Perbaikan berkesinambungan” (continues improvement) pada Kaizen Festival Nasional (KFN) 2019 yang diadakan di Solo, awal September lalu. Tim RSUP KBN tampil gemilang lewat ide-ide yang dinilai inovatif di bidang penanganan ICU (intensive care unit).

Kaizen Festival sendiri merupakan ajang tahunan bagi pencarian ide-ide baru untuk perubahan layanan medis yang diikuti ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia.

Meski penghargaan “Batang Emas” untuk RSU Pekerja belum masuk katagori yang terbaik, namun prestasi yang diperoleh tersebut cukup membanggakan segenap jajaran RSU Pekerja. Terlebih RSUP baru kali pertama mengikuti ajang festival tersebut.

Pada festival yang diprakarsai RS Pelni itu, tim RSU Pekerja membawa inovasi baru untuk antisipasi pasien ICU yang harus terlentang tiduran saja, sementara kesadarannya biasa-nya menurun. Pada kasus seperti ini biasanya akan timbul luka atau lecet di area tertentu. Untuk menghindari pasien lecet biasanya dengan pena-nganan dengan alat bantu berupa kasur decubitus.

Untuk mencari alternatif pengganti decubitus yang selain harganya relatif mahal dan menyiasati kondisi darurat, tim kaizen RSU Pekerja mencari pengganti sejenis yang lebih murah dan mudah didapatkan.

Inovasi baru yang dihadirkan berupa balon-balon karet tangan yang ditempatkan di daerah-daerah tertentu yang berpotensi menimbulkan lecet ternyata dapat menggantikan kasur decubitus. Inovasi ini menciptakan penghematan biaya penanganan dari Rp60.000 menjadi hanya Rp11.000. Inilah yang mungkin jadi nilai tambah dan mendapat apresiasi tinggi dewan juri di Kaizen Festival di Solo tersebut.

Bagi RSUP KBN sendiri, menurut Dirut RSU Pekerja dr Merty Supriharti, manajemen perubahan asal Jepang ini sudah mulai diterapkan sejak 2019. Seperti yang telah dilakukan di RS Pelni, dari 11 unit layanan yang ada di RSU Pekerja, masing-masing unit kerja dipacu untuk selalu mengidentifikasi masalah yang ada di unit masing-masing, lalu harus mencari ide-ide baru bagi pencarian solusi yang lebih baik.

Perubahan ke arah yang lebih baik ini tak selalu dengan perubahan yang drastis, tapi  sedikit demi sedikit pun tak jadi masalah. Yang terpenting ada perubahan ke arah yang lebih baik, dari sisi waktu, biaya, pelayanan.

“Waktu tunggu pasien pasien yang misalnya awalnya perlu waktu 11-12 menit dan sekarang menjadi 10 menit itu pun harus diapresiasi. Sebab, efisiensi itu bukan hanya dari faktor biaya, tapi juga waktu dan bisa kualitas layanan. Yang penting tidak puas sampai di situ dan harus mencoba menjadi lebih baik lagi,” kata dr Merty.

Dalam penerapan kaizen ini, jangan sampai ada pernyataan dari para pegawai di masing-masing unit menyebut tidak ada masalah. “Suatu kali unit tertentu bilang tidak ada masalah, saya yakin di situ justru banyak masalah,” katanya.

Keterlibatan RSU Pekerja di Kaizen Festival ini bukan saja bisa unjuk kebolehan lewat inovasi-inovasi baru, tapi juga bisa sekaligus mengadopsi ide-ide baru dari rumah sakit lain yang dirasa berguna dalam upaya perbaikan layanan untuk pasien. Salah satunya yang akan diaplikasikan RSUP KBN menurut dr Merty adalah tentang surveillance Pencegahan dan Pe-ngendalian Infeksi (PPI) di setiap unit yang dinilai lebih cepat. Dengan sistem temuan baru ini akan memudahkan pihak terkait dalam menentukan langkah atau atau tindakan.

Yang pasti dengan terus aktif dalam event-event inovatif seperti Kaizen Festival ini, RSU Pekerja KBN akan selalu update dalam inovasi kesehatan dan pelayanan. Tentu dampak paling nyata dari semua ini bisa dirasakan dalam pelayanan yang tentunya akan lebih baik, dan lebih baik lagi di masa depan.

[//TITOK_MAJALAHKBN/01]